Hari Kesehatan Nasional RI Ke-56 Th.2020
Stunting adalah kategori diagnostik dalam penilaian status gizi anak yang diperkenalkan pada tahun 1973 oleh J. C. Waterlow. Meskipun dirancang untuk meningkatkan penilaian status gizi anak-anak, stunting terjadi dalam keadaan yang dianggap multi-kausal.

Kesehatan ibu dan anak memegang peranan penting terhadap prevalensi stunting. faktor tinggi badan ibu <150 cm, jarak kelahiran <3 tahun dan tidak adanya perawatan antenatal merupakan faktor risiko stunting (Sumiaty, Pont and Sundari, 2017). Program kesehatan lingkungan yang berkaitan dengan penurunan stunting salah satunya adalah program stop buang air besar. Penelitian di Banggai dan Sigi menunjukkan bahwa program stop buang air besar sembarangan mencegah stunting anak baduta di Kabupaten Banggai dan Sigi (Hafid et al., 2017). Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa variabel yang memiliki faktor risiko terhadap kejadian stunting di Sulawesi Tengah adalah berat badan lahir rendah, tidak mencuci tangan, serta tidak memiliki jamban. Pendekatan dengan menggunakan model multilevel approach to community health upaya penanggulangan faktor risiko dapat dilakukan dengan mengefektifkan program kesehatan yang telah ada seperti antenatal care, kelas ibu hamil, suplementasi Fe dan Kalsium, pemberian makanan tambahan ibu hamil, Pelatihan praktik mencuci tangan pada air mengalir menggunakan sabun. Dukungan prasarana air bersih dengan pemipaan. Bantuan kepemilikan jamban dan cara perawatannya serta pelatihan sanitasi berbasis masyarakat (Nasrul, 2018). Penggunaan media flipchart dan spanduk sangat bermanfaat meningkatkan perilaku kesehatan 1000 HPK di Sulawesi Tengah (Nasrul et al., 2018).
Bukti yang konsisten dari determinan stunting di Indonesia adalah pemberian ASI non-eksklusif untuk 6 bulan pertama, status sosial-ekonomi rumah tangga yang rendah, kelahiran prematur, terlahir pendek, tinggi badan ibu rendah dan pendidikan. Faktor risiko lain adalah jamban yang tidak diperbaiki dan air minum yang tidak diolah. Faktor risiko lainnya adalah buruknya akses ke perawatan kesehatan dan tinggal di daerah pedesaan (Beal et al., 2018).
Dalam rangka Hari Kesehatan Nasional Republik Indonesia ke 56, Pusat Unggulan Institusi Poltekkes Kemenkes Palu Pusat Studi Stunting, STBM dan Kesehatan Kebencanaan bekerjasama Poltekkes Kemenkes Palu, Poltekkes Kemenkes Makassar, Poltekkes Kemenkes Mamuju dan Pusat Studi Stunting Poltekkes Mamuju melaksanakan seminar dengan tema Pendekatan Multisektoral Pencegahan Stunting di Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan. Menghadirkan Pembicara Dr. dr. Lucy Widasari, M.Si, (Konsultan & Dosen) Nasrul, SKM, M.Kes (Direktur Poltekkes Kemenkes Palu) Dr. Ir. Agustian Ipa, M.Kes (Direktur Poltekkes Kemenkes Makassar) Abdul Ganing, SKM, MPH (Wadir 1 Poltekkes Kemenkes Mamuju) Dr. Moh. Saleh N. Lubis, S. Pi, M. Si. (Bappeda Sulawesi Tengah) Drs. H. Khaeruddin Anas, M. Si. (Kepala Bappeda Provinsi Sulawesi Barat) Dr. Junaedi Bakri, M.Si (Kepala Bappelitbangda Provinsi Sulawesi Selatan) Sirajuddin, SP, M.Kes (Peneliti & Dosen-Kandidat Doktor) Dr. Hasnani Rangkuti (Badan Pusat Statistik). Moderator kegiatan Fahmi Hafid., S.Gz., M.Kes (Kepala Pusat Studi Stunting, STBM dan Kesehatan Kebencanaan) dan A. Bungawati, SKM, M.Si (Fasilitator Nasional STBM Stunting- Ketua Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Palu.