
Palu, 20 Mei 2026. Poltekkes Kemenkes Palu menyelenggarakan Workshop Integrasi Kurikulum Kebencanaan sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan sivitas akademika dalam menghadapi situasi krisis kesehatan akibat bencana. Kegiatan ini mengusung semangat One Team, One Response: Kolaborasi Profesi dalam Situasi Bencana, yang menekankan pentingnya kerja sama lintas profesi dan lintas sektor dalam penanggulangan bencana.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari pengembangan kurikulum disaster preparedness di lingkungan Poltekkes Kemenkes Palu. Melalui kegiatan ini, pembelajaran kebencanaan diharapkan tidak berjalan secara parsial pada masing-masing jurusan, tetapi terintegrasi dalam satu pengalaman belajar yang utuh, kontekstual, aplikatif, dan berbasis Interprofessional Education (IPE).
Penguatan kurikulum kebencanaan menjadi penting mengingat Indonesia merupakan wilayah dengan risiko bencana yang tinggi, termasuk gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, dan berbagai kejadian kedaruratan lainnya. Kondisi tersebut menuntut tersedianya tenaga kesehatan yang tidak hanya memiliki kompetensi profesi masing-masing, tetapi juga mampu berkoordinasi, berkomunikasi efektif, mengambil keputusan cepat, serta bekerja dalam sistem komando penanganan darurat bencana.
Kepala Pusat Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pendidikan Poltekkes Kemenkes Palu, Elvyrah Faisal, SKM., MPH., selaku penanggung jawab kegiatan, menyampaikan bahwa integrasi kurikulum kebencanaan diarahkan untuk membangun kesiapan mahasiswa dan dosen dalam merespons bencana secara kolaboratif. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk menyatukan peran empat jurusan, yaitu Keperawatan, Kebidanan, Gizi, dan Kesehatan Lingkungan, agar dapat bekerja bersama sesuai kompetensi masing-masing dalam situasi darurat.
Rangkaian kegiatan diawali secara daring pada 15 Mei 2026 dengan penyampaian materi oleh Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid., Peneliti dan Konsultan Manajemen Kesehatan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK Universitas Gadjah Mada. Dalam pemaparannya, narasumber menekankan bahwa akademisi memiliki peran penting sebagai penyedia data, penguat analisis, penghubung antara hasil riset dan kebijakan, serta pendukung pengembangan model pembelajaran kebencanaan yang relevan dengan kebutuhan lapangan.
Kegiatan luring kemudian dilaksanakan pada 19-20 Mei 2026 di Kampus Poltekkes Kemenkes Palu. Hari pertama kegiatan difokuskan pada penguatan konsep dan diskusi interaktif bersama narasumber dari lintas sektor, antara lain Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, BPBD, Dinas Sosial, serta fasilitator kebencanaan. Materi yang dibahas meliputi kebijakan dan strategi penanggulangan bencana di sektor kesehatan, sistem komando penanganan darurat bencana, peran lintas sektor, manajemen pengungsian, kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan, serta perlindungan kelompok rentan.
Penguatan materi juga mencakup peran dan kolaborasi tenaga kesehatan dalam penanggulangan krisis kesehatan, mulai dari fase pra-krisis, tanggap darurat, hingga pascakrisis atau pemulihan. Pada fase pra-krisis, tenaga kesehatan diarahkan untuk memahami analisis risiko, mitigasi, kesiapsiagaan, penyusunan rencana penanggulangan, dan rencana kontingensi. Pada fase tanggap darurat, peran tenaga kesehatan ditekankan pada pelayanan dasar, basic life support, triase, evakuasi, pengorganisasian, serta pelaksanaan sistem komando. Sementara pada fase pascakrisis, perhatian diarahkan pada rencana pemulihan, kesinambungan layanan, pencatatan, pelaporan, dan pembelajaran untuk perbaikan kesiapsiagaan berikutnya.
Materi ini juga menegaskan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya kesehatan perlu dilakukan melalui kajian risiko, perencanaan, mitigasi, kesiapsiagaan, penerapan fasilitas pelayanan kesehatan aman bencana, penyiapan sistem peringatan dini, serta penguatan koordinasi klaster kesehatan dan non-kesehatan. Dengan demikian, integrasi kurikulum kebencanaan di Poltekkes Kemenkes Palu tidak hanya diarahkan pada pengetahuan konseptual, tetapi juga pada kemampuan mahasiswa dan dosen untuk memahami mekanisme kerja nyata dalam penanggulangan krisis kesehatan.
Dalam sesi materi, peserta juga diperkenalkan pada konsep RIG, ROG, dan TFG sebagai bagian dari perencanaan dan pelaksanaan latihan kebencanaan. RIG atau Rencana Informasi Gladi digunakan untuk menyiapkan informasi dan alur skenario latihan, ROG atau Rencana Operasi Gladi digunakan untuk mengatur pelaksanaan operasi dalam simulasi, sedangkan TFG atau Tactical Floor Game digunakan untuk memetakan peran, alur komando, sumber daya, dan koordinasi antarunit sebelum pelaksanaan latihan lapangan.
Selain menerima materi, peserta juga mengikuti diskusi kelompok terarah untuk memetakan bahan kajian kebencanaan yang dapat diintegrasikan ke dalam mata kuliah pada masing-masing program studi. Pada tahap ini, dosen dan mahasiswa mendiskusikan capaian pembelajaran, skenario pembelajaran bersama, kebutuhan modul, serta rancangan SOP atau panduan penanggulangan bencana berbasis kolaborasi antarprofesi.
Hari kedua kegiatan dilanjutkan dengan simulasi kebencanaan berbasis IPE. Simulasi ini dirancang sebagai penerapan langsung dari konsep pembelajaran kolaboratif lintas profesi. Mahasiswa dari Jurusan Keperawatan, Kebidanan, Gizi, dan Kesehatan Lingkungan berkolaborasi dalam skenario tanggap darurat bencana, mulai dari evakuasi korban, triase, pelayanan kesehatan dasar, pelayanan ibu hamil dan bayi, penanganan gizi kelompok rentan, pengelolaan air bersih dan sanitasi darurat, hingga koordinasi di lokasi pengungsian.
Pelaksanaan simulasi melibatkan dukungan lintas sektor, antara lain BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, PMI, Puskesmas Mamboro, serta unsur terkait lainnya. Keterlibatan berbagai pihak ini menjadi gambaran nyata bahwa penanggulangan bencana tidak dapat dilakukan oleh satu profesi atau satu institusi saja, tetapi membutuhkan koordinasi yang terpadu sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi.
Melalui simulasi tersebut, peserta belajar mengenai pentingnya pembagian peran, komunikasi antarprofesi, pemanfaatan data dan informasi, pengelolaan sumber daya, serta pengambilan keputusan dalam waktu terbatas. Mahasiswa keperawatan berperan dalam triase dan pelayanan kegawatdaruratan, mahasiswa kebidanan berfokus pada pelayanan ibu hamil, ibu nifas, bayi, dan kesehatan reproduksi, mahasiswa gizi berperan dalam pemenuhan gizi pengungsi dan kelompok rentan, sedangkan mahasiswa kesehatan lingkungan berperan dalam pengelolaan air bersih, sanitasi, dan pencegahan penyakit berbasis lingkungan.
Dalam mendukung praktik kolaboratif tersebut, kegiatan juga memperkenalkan rancangan Bagan Tim EMT Poltekkes berbasis komposit prodi. Struktur ini menggambarkan adanya Ketua Tim sebagai pengendali utama, didukung oleh koordinator operasional, koordinator logistik, koordinator data dan informasi/perencanaan, serta unit layanan sesuai kebutuhan respons. Unit layanan yang tergambar meliputi layanan kesehatan, layanan gizi, layanan kesehatan lingkungan atau sanitasi, farmasi, transportasi, promosi kesehatan, dokumentasi, pencatatan penyakit, peta operasi atau peta respons, laporan harian dan akhir, serta penghubung atau liaison officer dengan HEOC.
Pembagian peran dalam Tim EMT Poltekkes tersebut menjadi contoh konkret bagaimana empat jurusan dapat berkontribusi dalam satu sistem respons. Jurusan Keperawatan dapat memperkuat layanan kesehatan, triase, dan pelayanan pra-fasilitas maupun intra-fasilitas; Jurusan Kebidanan berperan pada layanan kelompok rentan, ibu hamil, ibu nifas, bayi, dan kesehatan reproduksi; Jurusan Gizi berperan pada layanan gizi umum dan kelompok rentan; sedangkan Jurusan Kesehatan Lingkungan berperan pada layanan kesling, sanitasi, air bersih, dan pengendalian risiko lingkungan. Dukungan logistik, data-informasi, dokumentasi, promosi kesehatan, keselamatan, dan keamanan menjadi unsur penting agar respons berjalan terarah dan dapat dipertanggungjawabkan.
Output yang diharapkan dari kegiatan ini adalah tersusunnya modul atau skenario pembelajaran bersama, SOP atau panduan penanggulangan bencana, serta rancangan integrasi kurikulum kebencanaan pada program studi di lingkungan Poltekkes Kemenkes Palu. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat jejaring kerja sama dengan stakeholder eksternal dalam mendukung pendidikan, pelatihan, dan praktik kesiapsiagaan bencana.
Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang terdiri atas dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, serta mitra lintas sektor. Selama kegiatan berlangsung, peserta aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, dan mengikuti simulasi sesuai peran masing-masing. Suasana pembelajaran yang interaktif menjadikan kegiatan ini tidak hanya sebagai forum penyampaian materi, tetapi juga sebagai ruang praktik, refleksi, dan penguatan kerja tim.
Melalui Workshop Integrasi Kurikulum Kebencanaan ini, Poltekkes Kemenkes Palu berharap dapat menghasilkan lulusan vokasi kesehatan yang kompeten, adaptif, kolaboratif, dan siap berkontribusi dalam penanggulangan bencana. Semangat One Team, One Response menjadi pesan utama bahwa keselamatan masyarakat dalam situasi bencana hanya dapat diwujudkan melalui kerja bersama yang cepat, tepat, terarah, dan terkoordinasi.
continue reading
Related Posts
Sosialisasi Pengendalian Gratifikasi dan Pengaduan Masyarakat di PSDKU Poso telah [...]
Poltekkes Kemenkes Palu melaksanakan Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) [...]
Palu, 18 Mei 2026 – Program Studi Diploma III Kebidanan [...]