Kegiatan Praktik Kegawatdaruratan dan Manajemen Krisis yang diselenggarakan oleh Program Studi Diploma III Kebidanan Palu, Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palu, pada tanggal 13–17 April 2026 di Desa Salumbone, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, merupakan salah satu bentuk nyata implementasi pembelajaran berbasis lapangan. Kegiatan ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan mahasiswa serta masyarakat dalam menghadapi berbagai kondisi darurat pada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu nifas, bayi, balita, serta masyarakat umum. Fokus utama praktik ini adalah pada penanganan kegawatdaruratan jantung, sehingga diharapkan mampu memperkuat kapasitas masyarakat dalam memberikan respon cepat dan tepat terhadap situasi kritis yang dapat mengancam keselamatan jiwa.

Sejalan dengan kurikulum Program Studi D-III Kebidanan Palu yang mengintegrasikan pembelajaran kegawatdaruratan dan manajemen krisis, kegiatan ini mengusung tema “Penguatan Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Penanganan Kegawatdaruratan Jantung melalui Manajemen Krisis Berbasis Komunitas”. Tema ini menekankan pentingnya peran masyarakat sebagai garda terdepan dalam memberikan pertolongan awal sebelum pasien mendapatkan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi antara dosen Program Studi Diploma III Kebidanan Palu bersama mahasiswa, tenaga kesehatan, kader, serta pemerintah desa menjadi kunci keberhasilan dalam meningkatkan kapasitas masyarakat secara berkelanjutan. Pelaksanaan kegiatan diawali dengan tahap pembekalan kepada mahasiswa mengenai konsep kegawatdaruratan, Basic Life Support (BLS), serta manajemen krisis kesehatan reproduksi. Setelah itu, dilakukan asesmen langsung di lokasi untuk mengidentifikasi kondisi masyarakat, potensi risiko, serta kesiapan mereka dalam menghadapi situasi darurat.

Tahap inti kegiatan berupa praktik lapangan yang melibatkan berbagai kelompok sasaran, antara lain ibu hamil, ibu dengan bayi/balita, wanita usia subur (WUS), anak sekolah, dan kader kesehatan. Mahasiswa memberikan edukasi terkait tanda dan gejala kegawatdaruratan jantung, langkah penanganan awal, serta pentingnya respon cepat dan tepat dalam situasi krisis. Selain itu, dilakukan pelatihan kepada kader kesehatan untuk meningkatkan kemampuan dalam melakukan deteksi dini, pertolongan pertama, serta mekanisme rujukan yang efektif.

Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah berbasis komunitas, di mana masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek yang berperan aktif dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan lingkungannya. Edukasi diberikan secara partisipatif melalui simulasi, diskusi, dan praktik langsung sehingga lebih mudah dipahami dan diterapkan.

Kegiatan yang dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Sintuvu Roso Labuan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat. Peserta menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan pemahaman baru mengenai cara menghadapi kondisi darurat, terutama terkait serangan jantung yang membutuhkan penanganan cepat.

Kegiatan ini dibuka oleh Ibu Nurjaya S.Pd., M.Kes Selaku wadir 1 Poltekkes Kemenkes Palu yang menekankan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari kurikulum Prodi DIII Kebidanan Palu yang bertujuan untuk Pendeteksian dini kegawatdaruratan kebidanan di komunitas utamanya yang terkait dengan penyakit jantung. kegiatan pembukaan ini juga dihadiri oleh Sekjur Kebidanan, Kaprodi DIII Kebidanan Palu,Kades Salumbone yaitu Didi Kusbandi yang menyambut baik serta memfasilitasi terkait Praktik Kegawatdaruratan dan Manajemen Krisis.

Salah satu kader kesehatan, Asnawati, menyampaikan bahwa pelatihan ini sangat membantu mereka memahami langkah yang harus dilakukan saat menghadapi kondisi darurat, sehingga tidak panik dan mampu memberikan pertolongan awal bagi diri sendiri maupun orang di sekitar. Hal serupa diungkapkan oleh Rosnita, Bidan Desa Salumbone, yang merasa bersyukur karena masyarakatnya mendapat edukasi kesehatan terkait penanganan awal kegawatdaruratan. Selain itu, para kader kesehatan yang mengikuti pelatihan menunjukkan antusiasme tinggi dan merasa lebih percaya diri dalam menjalankan peran sebagai penghubung antara masyarakat dan tenaga kesehatan ketika terjadi situasi darurat.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik dalam menghadapi kegawatdaruratan jantung maupun kondisi krisis lainnya. Program ini juga diharapkan dapat menjadi model intervensi berbasis komunitas yang efektif dalam meningkatkan ketahanan kesehatan masyarakat serta menurunkan risiko komplikasi dan kematian akibat keterlambatan penanganan.

continue reading

Related Posts